Kamis, 03 Februari 2011

Manusia Modern

Sebuah perspektif menegaskan bahwa modern adalah suatu keadaan dimana masyarakat telah menghasilkan produk-produk secara massal guna memenuhi kebutuhan sehingga kehidupan menjadi lebih mudah. Lalu Postmodern adalah keadaan dimana produk-produk yang dihasilkan diciptakan justru untuk menciptakan kebutuhan-kebutuhan. Sementara itu, tradisional dinilai sebagai keadaan dimana produk-produk yang dihasilkan masyarakat hanya mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat saja. Dalam masyarakat tradisional tidak ada produksi massal. Jika ditelusur akan sangat banyak pembedaan-pembedaan antara modern dan bukan modern, namun untuk kepentingan tulisan ini cukuplah dengan kita menyepakati modern sebagai situasi yang kita alami sekarang ini.

Bagaimanakah manusia modern?

Jika keadaan sekarang ini disebut modern, lalu apakah kita yang hidup saat ini dikategorikan sebagai manusia modern? Menurut Alex Inkeles, Guru Besar Sosiologi Universitas Harvard, jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Kita memenuhi satu tanda khas dari manusia modern, yakni ciri luar dari manusia modern. Ciri luar itu berkaitan dengan dengan keterlibatan kita dalam urbanisasi, pendidikan, politikisasi, industrialisasi, dan komunikasi massa. Juga ditandai dengan terlepasnya individu-individu dari jaringan-jaringan keluarga dekat; orang semakin impersonal dalam berhubungan dengan orang lain. Ciri-ciri itu adalah ciri-ciri keadaan lingkungan bagi manusia modern, yang tidak cukup untuk mengatakan orang-orang yang terlibat dalam ciri-ciri itu sebagai manusia modern. Sebagai manusia modern, seseorang harus memenuhi ciri dalam yang berkaitan dengan semangat, cara merasa, cara berpikir, dan cara bertindak modern.

Menurut Alex Inkeles, setidaknya ada sembilan tema yang mendasari definisi-definisi bagi manusia modern:

1. Tema yang berkaitan dengan hal-hal baru
Manusia modern memiliki kesediaan untuk menerima pengalaman baru dan keterbukaannya bagi pembaharuan dan perubahan.

2. Tema yang berkait dengan dunia opini.
Memiliki kesanggupan untuk membentuk atau mepunyai pendapat mengenai sejumlah persoalan-persoalan dan hal-hal yang timbul disekitarnya maupun di dunia luar.
a. Demokratis, dalam arti sadar akan keragaman sikap dan opini disekitarnya, dan tidak menutup diri denagn menyangka semua orang mempunyai pendapat yang sama dengan dirinya.
b. Menerima pendapat-pendapat yang berbeda tanpa perlu tegas atau keras menolaknya karena khawatir kalau pendapat-pendapat itu akan menghancurkan pandangan-pandangan dunianya.
c. Tidak menerima opini secara otokratis dan hierarkis. Manusia modern tidak segera menerima ide-ide dari orang yang lebih tinggi kedudukannya dan segera menolak pendapat-pendapat dari orang-orang yang lebih rendah kedudukannya. Ide dari pihak manapun didengar dan dihargai sama, serta hanya dinilai berdasarkan kualitas idenya saja.

3. Tema yang berkaitan dengan konsepsi waktu.
a. Manusia modern berorientasi waktu kekinian dan masa depan, bukannya masa lampau.
b. Manusia modern selalu tepat waktu
c. Manusia modern memiliki waktu-waktu tetap (jadwal) sehingga hidupnya terencana dan teratur.

4. Tema yang berkait dengan perencanaan.
Manusia modern menginginkan terlibat dalam perencanaan akan hal-hal yang berkait dengan hidupnya dan organisasi, serta menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

5. Tema yang berkait dengan keyakinan akan kemampuan manusia.
Manusia modern yakin bahwa orang dapat belajar, dalam batas-batas tertentu untuk menguasai alam, untuk kepentingannnya sndiri, bukan dikuasai seluruhnya oleh alam.

6. Tema yang berkait dengan kemampuan memperhitungkan segala sesuatu.

7. Tema yang berkait dengan harga diri.
Manusia modern adalah orang-orang yang sadar akan harga diriorang-orang lain dan bersedia menghargainya.

8. Tema ilmu dan teknologi, dimana sangat dipercayai oleh Manusia modern.

9. Tema tentang keadilan.
Manusia modern percaya bahwa ganjaran-ganjaran seharusnya diberikan sesuai dengan tindakan-tindakan, bukan karena hal-hal atau sifat-sifat yang dimiliki seseorang yang tidak ada hubungannya dengan tindakannya.

Masalah psikologis manusia modern

Setelah kita lihat bagaimana manusia modern didefinisikan, sekarang kita akan melihat apa-apa masalah manusia modern. Sebagaimana yang kita lihat diatas, manusia modern telah semakin terasing dari hubungan-hubungan karib dengan sesama manusia. Keluarga besar yang akrab tidak lagi mudah ditemui. Yang ada keluarga-keluarga kecil yang hanya terdiri ayah, ibu, dan anak. Demikian pula pola-pola hubungan antar sesama berubah dari hubungan-hubungan yang personal: akrab, dekat, dan hangat, menjadi impersonal, dimana orang berhubungan karena adanya kepentingan-kepentingan ekonomi atau kekuasaan belaka. Akibatnya manusia-manusia modern mengalami masalah-masalah psikologis yang kurang dijumpai pada masyarakat tradisional. Masalah-masalah itu berkisar pada pengingkaran kecenderungan manusia sebagai mahluk sosial, dimana orang semakin menjauh dari pergaulan sosial.

Victor Frankl, salah seorang tokoh psikologi eksistensial terkemuka, mengatakan bahwa manusia modern mengalami masalah frustrasi eksistensial (Frustrasi dalam pemenuhan keinginan kepada makna) dan kehampaan eksistensial (merasa kehidupan tidak memiliki makna) yang semakin meluas.2 Menurutnya, individu masyarakat modern dilanda keraguan atas makna kehidupan yang mereka jalani. Hilangya tradisi dan nilai-nilai sebagai salah satu sumber utama kemunculan frustrasi eksistensial dan kehampaan eksistensial. Akibat dari hal itu, individu melakukan kompensasi-kompensasi melalui berbagai aktivitas seperti memembenamkan diri dalam pekerjaan, berjudi, alkoholisme, obat bius,dan seks

Frankl berpendapat pada manusia modern sekarang ini dijumpai suatu fenomena umum yang mirip dengan kondisi neurosis, tetapi tidak bisa di kategorikan ke dalam suatu bentuk patologi. Fenomena itu dinamakannya neurosis kolektif dengan empat gejala sebagai berikut:

1. Sikap Pesimistis terhadap hidup.
Individu-individu yang mengalami gejala ini menjalani hidup seakan-akan tidak ada hari esok.. Karenanya tidak ada perencanaan-perencanaan untuk masa depan.
2. Sikap Fatal terhadap hidup.
Individu yang terlanda gejala ini melihat rencana masa depan sebagai kesia-siaan. Mereka bertingkah laku seolah-olah bukan dari dirinya sendiri dan bukan untuk dirinya sendiri. Mereka cenderung mendevaluasi dirinya sendiri dan kehidupannnya.
3. Konformisme dan Kolektivisme.
Terlihat pada individu yang meleburkan diri ke dalam massa, kehilangan kepribadiannya dan bertingkah laku seakan-akan mereka adalah fungsi atau alat belaka dari massa, atau dinegara-negara totaliter, dari negara.
4. Fanatisme.
Individu yang terlanda fanatisme mngingkari kepribadian orang lain. Mereka hanya mau mendengar opini-opini mereka sendiri yang pada hakikatnya bukan opini-opini pribadi mereka, melainkan opini-opini penguasa, opini-opini partai, atau opini-opini publik.

Rollo May, tokoh psikologi eksistensial lainnya menyoroti permasalahan manusia-manusia modern pula. Ia menyatakan ada tiga masalah utama manusia modern, yaitu kekosongan, kesepian, dan kecemasan.
1. Kekosongan
Kekosongan adalah kondisi individu yang tidak lagi mengetahui apa yang diinginkannnya, dan tidak lagi memeiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Kekosongan telah mengarahkan individu-individu menjadi outer directed yakni mengarahkan diri pada orang lain dalam rangka mencari pegangan dan petunjuk untuk menentukan hidup. Ciri pertama kekosongan adalah bisa merespon tapi tidak bisa memilih sendiri respon apa yang paling baik bagi masalah-masalahnya. Ciri kedua adalah pasivitas terhadap ligkungan sosial. Ciri ketiga adalah apati terhadap dunia sekitar, atau tidak perduli.
2. Kesepian
Kesepian dialami individu-individu dalam masyarakat sebagai akibat langsung dari kekosongan, keterasingan dari diri sendiri dan sesama. Individu dalam masyarakat modern mengalami ketakutan akan kesepian. Mereka memiliki hasrat yang kuat untuk diterima orang lain, dan memiliki ketakutan yang dalam akan ditolak. Kegiatan menciptakan kebersamaan dengan orang-orang dilandasi oleh ketakutan diisolasi oleh orang lain bukan untuk menciptakan hubungan yang akrab dan hangat.
3. Kecemasan
Ketidakmenentuan yang semakin besar dari hari ke hari, tidak bisa tidak telah meningkatkan kecemasan individu dalam masyarakat modern. Kecemasan timbul karena perubahan traumatik yang dialami sebelumnya, yakni hilangnya nilai-nilai persaingan individu yang ditujukan kepada kesejahteraan bersama yang digantikan oleh persaingan antar individu yang eksploitatif, hilangnya penghargaan atas keutuhan pribadi yang digantikan oleh pembagian pribadi menjadi rasionalitas dan emosionalitas (berpikir dianggap baik, mengalami emosi dianggap buruk), hilangnya rasa berharga, rasa bermartabat, dan rasa diri dari individu-individu. Individu yang cemas bingung siapa dirinya dan apa yang harus diperbuatnya.

Salah seorang tokoh psikologi yang paling terkenal dalam menyoroti persoalan-persoalan masyarakat adalah Erich Fromm. Gagasannya mencakup masalah yang luas di masyarakat. Ia melihat bahwa masyarakat modern sekarang ini telah semakin terisolasi dan mengalami kesepian karena dipisahkan oleh alam dan dari orang-orang lain. Dalam sejarah manusia, dari waktu ke waktu manusia semakin bebas dalam menentukan apapun mengenai hidupnya, akan tetapi mereka juga semakin merasa kesepian. Tercerabutnya manusia modern dari hubungan-hubungan akrab dan hangat atas dasar kemanusiaan belaka, telah menjadikan manusia menjadi mesin-mesin hidup. Tapi itu konsekuensi yang harus dibayar dari pola kehidupan sekarang, yang terlalu ‘teratur’ dan tanpa warna. Jangan heran jika suatu saat (kini sudah) terjadi anti-modern, suatu gerakan yang bukan tanpa dasar tentunya, jika menilik tulisan di atas.

http://psikologi-online.com/manusia-modern

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar