Kamis, 17 Mei 2007

Semangat Nasionalisme dan Patriotisme dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-Hari

1. Nasionalisme

Rasa kebangsaan adalah salah satu bentuk rasa cinta bahkan pusat gabungan dari berbagai rasa cinta yang melahirkan jiwa kebersamaan pemiliknya. Rasa kebangsaan sebe-narnya merupakan sublimasi dari Sumpah Pemuda yang menyatukan tekad menjadi bangsa yang kuat, dihormati, dan disegani di antara bangsa-bangsa di dunia.

Rasa kebangsaan adalah suatu perasaan rakyat, masyarakat, serta bangsa terhadap kondisi bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya menuju cita-cita bangsa yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pengertian nasionalisme ada tiga, yaitu :

1. Menurut Encylopaedia Britania, nasionalisme merupakan keadaan jiwa setia individu yang merasa bahwa setiap orang memiliki kesetiaan dalam keduniaan ( sekuler ) tertinggi kepada negara kebangsaan.

2. Menurut International Encyclopaedia of the Social Sciences, nasionalisme adalah suatu ikatan politik yang mengikat kesatuan masyarakat modern dan memberi keabsahan ter-hadap klaim ( tuntutan ) kekuasaan.

3. Nasionalisme adalah suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi harus diserahkan kepada negara kebangsaan atau nation state.

Nasionalisme menjadi persyaratan mutlak bagi hidupnya sebuah bangsa. Ideologi nasionalisme membentuk kesadaran para pemeluknya bahwa loyalitas tidak lagi diberikan pada golongan atau kelompok kecil, seperti agama, ras, suku, dan budaya ( primordial ), namun ditujukan kepada komunitas yang dianggap lebih tinggi, yaitu bangsa dan negara. Jadi, nasionalisme sebagai ide ( ideologi ) menjadi condition sine quanon (keadaan yang harus ada) bagi keberadaan negara dan bangsa.

Wawasan Nusantara dalam kehidupan nasional yang mencakup kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan harus tercermin dalam pola pikir, pola sikap, serta pola tindak yang senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Pengertian semangat kebangsaan atau nasionalisme, merupakan perpaduan atau sinergi dari rasa kebangsaan dan paham kebangsaan. Kondisi semangat kebangsaan atau na-

sionalisme suatu bangsa akan terpencar dari kualitas dan ketangguhan bangsa tersebut dalam menghadapi berbagai ancaman. Dari semangat kebangsaan akan mengalir rasa kesetiaka-wanan sosial, semangat rela berkorban, dan dapat menumbuhkan jiwa patriotisme.

Untuk mewujudkan masa depan bangsa Indonesia menuju ke masyarakat yang adil dan makmur, pemerintah telah melakukan upaya-upaya melalui program pembangunan nasio-nal baik fisik maupun nonfisik. Sasaran pembangunan yang bersifat fisik ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan yang bersifat nonfisik diarahkan kepada pembangunan watak dan karakter bangsa yang mengarah kepada warga negara yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mengedepankan sifat kejujuran, kebenaran, dan keadilan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Nasionalisme Indonesia lahir karena penjajahan yang menyebabkan penderitaan dan penindasan berkepanjangan terhadap bangsa Indonesia. Kesadaran nasional bangsa Indonesia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan dari luar. Faktor dari dalam adalah keadaan yang tertindas, terbelakang, dan penderitaan yang terus-menerus sehingga melahirkan keinginan untuk merdeka, bebas, dan maju. Faktor dari luar adalah kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905 dan gerakan kemerdekaan di negara-negara tetangga, seperti Cina, Turki, India, dan Filipina.

Semangat kebangsaan ( nasionalisme ) di panggung politik internasional tumbuh pada awal abad ke-20 yang ditandai dengan kebangkitan dunia Timur ( nagara Asia ), seperti India, Cina, dan Filipina. Sedangkan di Indonesia ditandai dengan tumbuhnya berbagai organisasi pergerakan, seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, Indiche Partij, Perhimpunan Indonesia, Partai Nasional Indonesia, dll.

Perkembangan nasionalisme di Indonesia melalui tahap-tahap sebagai berikut :

1. Masa perintis, yaitu masa mulai dirintisnya semangat kebangsaan melalui pembentukan organisasi-organisasi pergerakan.

2. Masa penegas, yaitu masa mulai ditegaskannya semangat kebangsaan pada diri bangsa Indonesia.

3. Masa pencoba, yaitu bangsa Indonesia melalui organisasi pergerakan mencoba meminta kemerdekaan dari Belanda.

4. Masa Pendobrak, yaitu masa dimana semangat dan gerakan nasionalisme Indonesia telah berhasil mendobrak belenggu penjajahan dan menghasilkan kemerdekaan.

Nasionalisme Indonesia berarti adanya rasa ingin bersatu, satu perangai dan nasib, serta persatuan antara orang dan tempat. Bangsa Indonesia adalah seluruh manusia yang

tinggal secara bersama di wilayah Nusantara dari ujung barat ( Sabang ) sampai ujung timur ( Merauke ) dan memiliki Le desir d’etre ensemble dan charaktergemeinschaft yang telah menjadi satu. Nasionalisme Indonesia tidak bersifat internasionalisme yang bermaksud memperluas wilayah bangsa. Nasionalisme Indonesia tidak bersifat ekspansif karena hal itu tidak sesuai dengan wilayah bangsa yang memiliki Le desir d’etre ensemble dan charaktergemeinschft. Nasionalisme Indonesia juga tidak bersifat sempit ( daerahisme, sukuisme, emonasionalisme ) yang hanya mementingkan atau mengutamakan kelompok, wilayah, atau golongan tertentu dalam diri bangsa Indonesia.

Faktor-faktor penting bagi pembentukan nasionalisme Indonesia, yaitu :

1. Persamaan nasib, yaitu penderitaan bersama di bawah jajahan bangsa asing kurang lebih selama 350 tahun.

2. Kesatuan tempat tinggal, yaitu wilayah nusantara yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

3. Keinginan bersama untuk merdeka, melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

4. Cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai suatu bangasa.

Nasionalisme bangsa dapat ditingkatkan dan dipertahankan melalui pembentukan alat-alat pemersatu bangsa, di antaranya adalah bahasa persatuan ( bahasa Indonesia ), bendera negara ( Sang Merah Putih ), lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambing negara ( Garuda Pancasila ), semboyan negara ( Bhineka Tunggal Ika ), dasar falsafah negara ( Pancasila ), konstitusi negara ( UUD 1945 ), bentuk negara kesatuan Republik Indonesia yang berkedau-latan rakyat, konsepsi wawasan nusantara, dan kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai kebudayaan nasional.

Ciri-ciri nasionalisme, antara lain :

1. Memiliki rasa cinta pada tanah air ( patriotisme ).

2. Bangga menjadi bangsa dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

3. Menempatkan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri dan golongan atau kelompoknya.

4. Mengakui dan menghargai sepenuhnya keanekaragaman pada diri bangsa Indonesia.

5. Bersedia mempertahankan dan memajukan negara dan nama baik bangsanya.

6. Senantiasa membangun rasa persaudaraan, solidaritas, kedamaian, dan anti kekerasan antar kelompok masyarakat dengan semangat persatuan.

7. Menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah sebagai bagian dari bangsa lain untuk mencip-takan hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.

2. Patriotisme

Patriotisme berasal dari kata patria, artinya tanah air. Kata patria berubah menjadi kata patriot yang berarti seorang yang mencintai tanah air. Seorang patriotik adalah orang yang cinta pada tanah air dan rela berkorban untuk mempertahankan negaranya. Patriotisme berarti paham tentang kecintaan pada tanah air. Semangat patriotisme berarti semangat untuk mencintai tanah air. Patriotisme lahir karena dilandasi oleh semangat kebangsaan atau nasionalisme. Jadi, patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.

Sikap patriotisme yang diwujudkan dalam semangat cinta tanah air dapat dilakukan dengan cara :

1. Perbuatan rela berkorban untuk membela dan mempertahankan negara dan bangsa.

2. Perbuatan untuk mengisi kelangsungan hidup negara dan bangsa.

Ciri-ciri patriotisme, antara lain :

1. Cinta tanah air.

2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

3. Menempatkan persatuan, kesatuan, serta keselamatan bangsa dan negara di atas kepen-tingan pribadi dan golongan.

4. Berjiwa pembaharu.

5. Pantang menyerah.

Perbuatan membela dan mempertahankan negara diwujudkan dalam bentuk kesediaan berjuang untuk menahan dan mengatasi serangan atau ancaman bangsa lain yang akan meng-hancurkan negara. Kelangsungan hidup negara dapat diwujudkan dengan kesediaan bekerja sesuai dengan bidang dan spesialisasinya dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa, serta pencapaian tujuan negara. Penanaman jiwa patriotisme harus dilandasi oleh semangat kebangsaan atau nasionalisme. Sebaliknya, jiwa nasionalisme dalam setiap pribadi warga negara perlu dilanjutkan dengan semangat patriotik untuk mencintai dan rela berkorban demi kemajuan bangsa.

3. Pentingnya Nasionalisme dan Patriotisme

Negara kebangsaan dibangun atas dasar nasionalisme. Selanjutnya, nasionalisme yang tertanam dalam diri setiap warga negara akan mmperkuat tegaknya negara kebangsaan. Gerakan untuk senantiasa mencintai dan membela bangsanya dari ancaman negara lain atau ancaman kehancuran melahirkan patriotisme. Antara nasionalisme dengan patriotisme juga terdapat kaitan yang amat erat. Karena itu, nasionalisme dan patriotisme sangat penting bagi kelangsungan hidup negara kebangsaan.

Suatu negara yang warga negaranya memiliki semangat kebangsaan dan jiwa patrio-tisme maka warga negara tersebut dapat diandalkan untuk membela, berjuang maju, dan bersedia mengisi kemajuan dan kelangsungan bangsanya. Sebaliknya, suatu negara yang warga negaranya tidak memiliki semangat nasionalisme ataupun patriotisme maka dalam perilakunya tersebut mudah sekali untuk melakukan tindakan yang dapat menghina nama baik bangsa, menjual harga diri bangsa, merendahkan martabat bangsa, dan tidak lain yang berakibat melemahkan kelangsungan dan kewibawaan negara.

Contoh perilaku dan tindakan yang dapat meningkatkan nasionalisme dan patriotisme, antara lain :

1. Menjalankan dan mempertahankan kegiatan yang bersifat kerukunan di masyarakat, misalnya acara pernikahan, kematian, kelahiran, dan syukuran.

2. Menjaga ketertiban masyarakat dengan mematuhi aturan yang dibuat bersama.

3. Mengikuti siskamling dan kerja bakti.

4. Menerima dan menghargai perbedaan antarsuku bangsa, misalnya berteman dengan siswa dari suku lain.

5. Mengikuti kegiatan PON, Jambore Nasional, MTQ, pertukaran pelajar, dan misi kesenian.

6. Menghindari tindakan provokatif yang tidak bertanggung jawab.

7. Mematuhi hukum dan aturan yang telah disepakati negara.

8. Menjaga nama baik dan kebanggan atas negara sendiri di luar negeri, misalnya ketika belajar atau bekerja di negara lain.

9. Bersedia membela negara dari ancaman negara lain.

10. Aktif memberi usul, saran, tanggapan, dan kritik terhadap penyelenggara negara.

11. Ikut mengawasi jalannya pemerintahan, baik di daerah maupun di tingkat pusat.

12. Membela nama baik keluarga, nama baik dan keselamatan sekolah, atau membela masyarakat sekitar kita.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto. 2004. Kewarganegaraan Untuk Kelas X SMA. Jakarta : Erlangga.

Depdikbud. 1994. PPKn Untuk Kelas 1 SLTA. Jakarta : Ditjen Dikdasmen, Depdikbud.

Jutmini, Sri dan Winarno. 2004. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Kelas 1 SMA. Surakarta : Tiga Serangkai.

Suparyanto, Yudi dan Amin Suprihatini. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Kelas X SMA. Klaten : Cempaka Putih.

Suprihatini, Amin dkk. 2005. Kewarganegaraan Untuk Kelas X SMA Jilid 1. Klaten : Cempaka Putih.

2 komentar: